banner 728x250

Usup Supriani Angkat Bicara: Klarifikasi Petugas Dishub Soal Dugaan Pungli di Terminal Leuwiliang

banner 120x600
banner 468x60

Penjelasan Petugas Dishub tentang Dugaan Pungli di Terminal Leuwiliang

Sebuah polemik yang muncul akibat dugaan pungutan liar (pungli) di Terminal Leuwiliang akhirnya mendapat penjelasan dari seorang petugas Dinas Perhubungan (Dishub) bernama Usup Supriani. Ia mengakui bahwa interaksinya dengan seorang sopir pick up yang terekam kamera bukanlah praktik pungli, melainkan pemberian uang kopi dari seorang rekan lama.

Usup, yang telah bekerja sebagai pegawai Dishub Kabupaten Bogor sejak tahun 1993, menjelaskan bahwa ia kebetulan sedang berada di Terminal Leuwiliang saat kejadian berlangsung. Ia mengakui bahwa dirinya menerima uang dari seorang temannya yang menjadi sopir tersebut.

banner 325x300

“Sesungguhnya itu supir kawan saya. Kami bertemu dan saat dia membawa mobil, lalu kami ngobrol di pintu masuk terminal. Dia memberikan uang untuk kopi,” ujarnya saat diwawancara oleh awak media pada Jumat (7/11/2025).

Ia menambahkan, “Nggeus ngopi ncan (sudah ngopi belum), lalu saya jawab belum. Makanya ia memberikan uang Rp5 ribu untuk kopi.”

Pernyataan ini muncul setelah foto yang memperlihatkan dirinya menerima uang dari seorang sopir pick up pada Rabu siang (5/11) menjadi viral dan memicu dugaan adanya praktik pungli di kawasan terminal.

Tanggapan Publik terhadap Dugaan Pungli

Foto tersebut memicu kegelisahan publik terkait masih maraknya praktik pungutan di transportasi publik. Banyak warga mempertanyakan apakah pria berseragam dalam foto tersebut adalah petugas resmi Dishub atau oknum yang memanfaatkan seragam untuk mencari keuntungan.

“Kami para sopir jadi bingung. Nolak takut ribut, ngasih juga kesel. Kalau ternyata bukan petugas resmi, itu lebih ngeri lagi,” ujar seorang sopir pick up.

Penyangkalan Kepala Terminal Leuwiliang

Kepala Terminal Leuwiliang, Wahyu, sebelumnya membantah bahwa pria dalam video itu adalah bagian dari personelnya. Ia mengatakan, “Ijin kang, itu bukan anggota saya. Akang bisa ke Danpos, pak Torus di depan. Saya klarifikasi dulu ke pak Torus.”

Fenomena serupa bukan sekali terjadi. Dugaan pungli oleh individu berseragam Dishub sebelumnya pernah muncul di Ciomas, Tenjo, Rancabungur, dan Ciawi. Pola yang berulang menimbulkan dugaan bahwa keberadaan atribut Dishub tidak diawasi ketat, membuka ruang bagi oknum untuk bertindak di lapangan tanpa identitas jelas.

Peringatan Bupati Bogor

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, bahkan pernah mengingatkan bahwa pungli tidak boleh menjadi budaya. Namun, kasus terbaru menunjukkan masih adanya celah sistem pengawasan yang belum tertutup.

Warga Leuwiliang berharap pemerintah segera memperjelas status peristiwa ini. “Yang kami butuhkan kepastian. Kalau memang bukan pungli, jelaskan. Kalau ada oknum, tindak. Jangan dibiarkan, nanti makin berani,” ujar Ade, salah satu warga.

Langkah yang Diharapkan oleh Masyarakat

Publik mendesak Dishub melakukan pendataan ketat personel, mempertegas aturan penggunaan seragam, serta memastikan setiap individu yang bertugas di terminal terverifikasi dengan jelas.

Dengan munculnya klarifikasi Usup Supriani, sebagian polemik mulai mereda. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa komunikasi dan transparansi dari jajaran Dishub sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman publik.

Pentingnya Pengawasan dan Verifikasi

Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa seragam saja tidak cukup untuk membuktikan legitimasi seseorang di lapangan. Pengawasan rutin, verifikasi identitas, dan ketertiban operasional harus diperkuat agar ruang bagi kesalahpahaman atau bahkan penyalahgunaan tidak semakin melebar.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *