Indeks

Tiga Minggu Pasca Bencana, Krisis Air Bersih di Tapteng Membuat Warga Beli Rp 1000 per Jerigen

Kondisi Warga Tapanuli Tengah Pasca Bencana Banjir dan Longsor

Di Kabupaten Tapanuli Tengah, khususnya di Kecamatan Pandan dan Tukka, jerigen-jerigen plastik berwarna putih kini menjadi pemandangan yang sering dilihat. Hal ini terjadi pasca bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak tiga minggu lalu, yaitu pada Selasa (25/12/2022). Bencana tersebut menyebabkan banyak warga kesulitan mendapatkan akses air bersih.

Pasca bencana, masyarakat harus berjuang untuk mencari tetes demi tetes air bersih agar bisa melanjutkan kehidupan mereka. Tanpa air bersih, rumah-rumah yang dipenuhi lumpur tidak bisa dibersihkan. Selain itu, kebutuhan dasar seperti minum, mandi, cuci, dan Kakus (MCK) juga tidak dapat terpenuhi.

Pantauan dari Tribun Medan menunjukkan bahwa polytank (tangki air) telah ditempatkan di beberapa titik. Polytank ini berwarna biru dan bertuliskan Kementerian PUPR. Dari polytank tersebut, terdapat lima keran air. Namun, polytank ini tidak setiap hari diisi. Hanya beberapa hari belakangan ini saja polytank tersebut ditempatkan.

Meskipun tersedia, tidak banyak warga yang mengambil air dari polytank tersebut. Sebagian jerigen-jerigen putih terlihat berjejer di depan SMPN 2 Pandan Nauli, Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapteng. Jerigen-jerigen ini berada di depan sekolah dan tampak sedang menunggu giliran untuk mengambil air.

Beberapa warga menggunakan becak, mobil, atau motor untuk membawa jerigen mereka. Bahkan, bukan hanya jerigen saja yang digunakan, tetapi juga alat masak dangdang untuk menampung air. Mereka yang mengambil air di depan SMPN 2 Pandan harus merogoh kocek sebesar Rp 1.000 per satu jerigen.

Di sisi kanan lokasi pengambilan air, terdapat sebuah masjid yang menyediakan air bersih dengan sistem pembayaran infaq atau seikhlasnya. Tujuan dari sistem ini adalah untuk pembangunan masjid. Salah satu warga, Imam, mengatakan bahwa ia terpaksa mengambil air di depan SMPN 2 karena tidak ada air di rumah.

“Gimana lagi, kalau enggak gini, gak ada air di rumah untuk MCK, bahkan air minum pun kita harus ngambil di sini. Karena itu tadi sulit dapat air bersih. Air di rumah sudah mati hampir sebulan,” jelasnya saat ditemui oleh Tribun Medan.

Imam berharap agar air segera hidup kembali. Ia menyebutkan bahwa biaya Rp 1.000 per jerigen cukup memberatkan, terutama jika harus membeli 10 jerigen setiap hari selama 30 hari. Ia juga berharap agar perbaikan dapat dilakukan lebih cepat.

Hal senada juga disampaikan oleh Zulfikar, seorang warga Jalan Matauli Kecamatan Pandan. Meski ia bisa mendapatkan air dengan mudah, namun hal tersebut membuatnya merasa jenuh. “Gimana ya, tiap hari kita mengantre mengambil air, angkat air. Capek juga. Paling lama itu pernah saya mengantre air setengah jam,” ucapnya.

Ia juga mengaku pernah mengambil air subuh-subuh agar tidak perlu mengantre. Untuk itu, ia berharap agar air di rumahnya bisa hidup kembali seperti sebelum bencana.

“Kita berharaplah air cepat hidup. Biar gak ngantre lagi. Tapi gimana lagi, bencana. Kita harap sebelum tanggal 25 Desember sudah hiduplah air ini,” jelasnya.

Zulfikar lebih memilih mengambil air di masjid karena selain untuk kebutuhan pribadi, ia juga ingin berpartisipasi dalam kegiatan sosial. “Kalau saya lebih memilih ambil air di sini. Selain untuk niatnya bersedekah juga untuk kemakmuran masjid. Karena ngambil air di sini bayarnya seikhlasnya atau bahasanya infaq,” ucapnya.

Warga lainnya, seperti yang tinggal di Simpang DPR Kecamatan Pandan, juga mengeluhkan kesulitan dalam mengambil air. Rumahnya terkena banjir, meski tidak parah, tetapi tetap membutuhkan air untuk membersihkan rumah.

“Saya mengangkut air setiap hari. Lumayanlah (capek) tapi mau mengeluh gak bisa. Mudah-mudahan kalau bisa dipercepatlah air hidup ke rumah kami seperti biasa,” jelasnya.

Menurut informasi dari akun Instagram resmi Pemkab Tapteng @pemkabtapanulitengah, 90 persen air di seluruh rumah warga Kabupaten Tapteng mati sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Akibat bencana banjir bandang pada 25 November lalu, beberapa pipa mengalami kerusakan dan perlu perbaikan.

Untuk itu, PDAM Mual Nauli memberikan penggratisan rekening air bulan November hingga distribusi kembali normal. “Distributor Air Mati Total 90 persen. Hal ini disebabkan bencana banjir bandang yang terjadi pada 25 November lalu. Akibatnya beberapa pipa mengalami kerusakan dan perlu perbaikan. Penggratisan rekening air diberlakukan. Waspada penagihan manual. Semua pelanggan status non aktif di sistem,” tulisan dalam poster Instagram yang diterbitkan oleh Pemkab Tapteng.


Exit mobile version