Sejarah dan Dampak PLTU Ombilin terhadap Masyarakat Sekitar
KABAR SLEMAN – Segelas kopi pahit masih hangat di tangan H. Adi Muaris Khatib Kayo, saat ia memandang jauh ke cerobong PLTU Ombilin sambil duduk di kursi tua yang setia menemaninya dirumahnya, Dusun Ibus, Desa Salak, Sawahlunto, Sumatera Barat.
Tokoh yang juga Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Sijantang ini terkesan ramah saat menerima kedatangan jurnalis untuk berbincang tentang satu hal, apakah PLTU Ombilin benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat terdampak atas kehadiran pembangkit listrik 2 x 100 megawatt itu ?
Kamis, 27 November 2025, Jam dinding rumah Adi Muaris baru menunjukan pukul 14.30 WIB ketika ia mulai berkisah. Lelaki yang juga memimpin Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) itu bicara lugas, tegas, apa adanya, tanpa menutup-nutupi sesuatu yang dia ketahui dan alami.
Ceritanya, dalam ekspresi datar, sejak awal PLTU beroperasi hingga kini bertransformasi menjadi PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Ombilin, Badan Usaha Milik Negara ini tak pernah lepas dari lingkungan sosialnya.
“Secara objektif, PLTU Ombilin PLN Indonesia Power sangat peduli terhadap lingkungan sosial masyarakat. Dari dulu sampai sekarang, perhatian mereka konsisten,” tuturnya.
Sumbangsih PLTU dalam Ekonomi
Adi Muaris melanjutkan, di wilayah administrasi Desa Salak dan Desa Sijantang Koto, dua desa dalam Kenagarian Sijantang tempat PLTU berdiri, kehadiran pembangkit sejak 28 tahun silam itu diakui menjadi denyut ekonomi bagi warganya.
“Kontribusinya signifikan. Mulai dari alat pertanian, bibit tanaman, modal UMKM, bedah rumah, kegiatan pemuda, hingga bantuan sekolah. Semua itu kami rasakan,” tambahnya.
Namun, yang paling melekat di ingatannya ialah, momen ketika asap tebal muncul akibat gangguan pembangkit beberapa tahun lalu. PLTU Ombilin langsung melakukan cek kesehatan menyeluruh ke seluruh warga desa terdampak, kemudian memberikan mereka Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) secara penuh.
Tapi, Adi Muaris tak menampik adanya persoalan dibalik itu. Dia sadar, yang namanya pembangkit listrik sebesar PLTU Ombilin tentu tak lepas dari berbagai persoalan yang melilitnya, baik teknis, maupun sosial lingkungannya karena dimaklumi usia pembangkit ini sudah berusia 28 tahun.
Meski begitu, ia tetap mengapresiasi UBP Ombilin yang peduli dan fokus melakukan dukungan pemanfaatan limbah FABA (fly ash dan bottom ash) sebagai unsur campuran pupuk tanaman untuk meningkatkan hasil produksi pertanian, dan usaha produktif pembuatan bahan bangunan perumahan.
Suara Desa Sijantang CSR Tepat Sasaran
Dari Desa Sijantang Koto, Sekretaris Desa Defi Indriani turut memberikan pandangan senada. Menurutnya, kepedulian PLTU terhadap masyarakat sangat terasa, terutama dalam mendukung tiga kelompok tani Data Rambutan, Parigi, dan Muaro.
“Baru-baru ini ada bantuan untuk petani ubi dan ikan. Sebelumnya juga ada di setiap tahunnya perusahaan listrik ini menyalurkan bantuan melalui program CSR khusunya untuk kelompok, bukan pribadi. Dan itu sangat membantu ekonomi warga kami yang berada paling dekat dengan PLTU,” kata Defi Indriani.
Ia menegaskan satu harapan, ingin PLTU Unit Bisnis Pembangkitan Ombilin tetap eksis, dan terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Dampak Langsung ke Desa Lokasi Pembuangan Abu
Terpisah, Kepala Desa Salak, Jeri Rizal, juga punya ceritanya sendiri. Dalam wilayah pemerintahan Desa Salak ada lokasi tempat pembuangan abu PLTU, sehingga dampaknya terasa lebih dekat. Untuk itu juga harus diberi perhatian. Diakui, UBP Ombilin juga banyak menyalurkan bantuan CSR berupa bibit tanaman, becak motor, dan berbagai bentuk bantuan lainnya.
Namun Jeri menekankan perlunya BUMN Persero ini hendaknya dapat membuka akses lapangan kerja bagi sekitar 200 pemuda desa Salak yang masih pengangguran. Mereka terdiri dari tamat SLTA hingga sarjana. Untuk itu Jeri berharap akan ada lowongan tenaga kerja apakah outsourcing atau kontrak kerja lain di PLTU Ombilin.
Kemudian, pria milenial energik ini berharap lain agar program CSR PLN Indonesia Power dapat memberikan bantuan berupa alat-alat pertanian seperti mesin bajak, potong rumput, dan mesin semai padi.
“Petani kami masih dalam skala manual. Jika PLN Indonesia Power memberikan kami bantuan alat-alat mesin pertanian berupa mesin bajak, potong rumput dan mesin penyemaian tanam padi akan lebih bermakna bagi peningkatan swasembada pangan di desa kami,” ungkapnya Jeri berharap
UBP Ombilin Komitmen Berkelanjutan
Terpisah, Manager PLN Indonesia Power UBP Ombilin, Andi Setiawan, mengungkapkan hingga saat ini, total CSR yang disalurkan pihak perusahaan pembangkit listrik ini tercatat tahun 2024 mencapai Rp599,6 juta, sementara pada 2025 meningkat menjadi Rp625 juta.
“Ini bentuk kepedulian kami kepada masyarakat disekitar pembangkit atau wilayah sekitarnya. Sebagai catatan CSR ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi pelaku usaha dan kelompok tani. Insya Allah, perusahaan akan terus menunjukkan kepedulian sosialnya terhadap lingkungan operasional PLTU” tegas Andi, didampingi Asisten Manager Hadi Mulyanto dan Junior Officer Lismawati.
PLTU Menjadi Nafas Sosial
PLTU Ombilin bukan sekadar pembangkit listrik negara. Bagi masyarakat Nagari Sijantang, Desa Sijantang Koto dan Desa Salak serta desa-desa lainnya, ia telah menjadi bagian dari denyut kehidupan menghadirkan peluang, tantangan, dan harapan yang saling berkelindan.
Di bawah asap tipis Ombilin, masyarakat terus berharap agar hubungan simbiosis mutualisme ini tetap berjalan, PLTU yang bekerja untuk negara, tapi ia tak melupakan rakyat yang hidup paling dekat dengannya.


















