Indeks

Puisi Hati Matdon

Pelajaran Sekolah

Seorang guru memperkenangkan seorang siswa bernama Budi di kelas. Ia mengatakan, “Ini Budi,” sambil menunjuk huruf-huruf yang ada di papan tulis. Para siswa kemudian mengikuti dengan serentak. Guru itu melanjutkan, “Ini ibu Budi,” lalu disusul oleh para anak-anak. “Dan ini bapak Budi,” tambahnya lagi. Akhirnya, nama Budi menjadi bagian dari kehidupan saya. Karena hingga saat saya menikah, saya tidak pernah menemukan seseorang bernama Budi seperti yang diajarkan oleh guru saya.

Bandung, Oktober 2025

Pelajaran Tajwid

Guru ngajiku menjelaskan tentang tajwid. Ia berkata, “Jika nun mati bertemu dengan huruf ba, itu disebut iqlab.” Lalu ia menjelaskan, “Jika nun menghadapi hamzah, itu disebut idhar.” Saat nun mati menghadapi nun hidup, maka nun mati akan terkejut dan hilang.

Bandung, 15 Oktober 2025

Pelajaran Puisi

Ahda Imran mengajariku tentang diksi. Afrizal Malna memberiku kata-kata yang liar. Dan aku menulis puisi di daun pisang. Hasilnya, angin dan hujan berebutan untuk membacanya. Acep Zamzam Noor memberiku petuah agar aku menulis puisi di hati. Ia akan menjelma menjadi matahari dan membuatmu tenang. Maka, kutulis semuanya dengan hati. Tapi puisiku jadi seperti seorang politikus busuk. Ah… susahnya menulis puisi.

Bandung, November 2025

Pelajaran Seks

Pasanganku memberiku ciuman sayang di pipi. Aku langsung kelejotan menuju surga. Pasanganku memeluk tubuhku dengan kasih sayang. Aku terbuai, lupa sedang menulis sajak. Hingga sajakku gosong seperti kompor. Pasanganku melancarkan serangan terakhirnya. Aku sudah mabuk, tak ingat apa-apa, kecuali keringat yang jatuh di pinggir ranjang.

Bandung, November 2024

Matdon

Matdon adalah seorang penyair, wartawan, dan penulis. Beberapa buku puisi, cerpen, dan esai telah ditulisnya. Kini ia menjadi Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung. Buku puisi terbarunya berjudul Hanya Waktu (2025).

Exit mobile version