Perkembangan Konsolidasi dan Penggabungan Bank di Indonesia
Banyak bank di Indonesia yang berhasil menyelesaikan proses konsolidasi atau penggabungan dalam beberapa tahun terakhir. Berbeda dengan rencana merger antara PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) dan PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) yang akhirnya gagal, sejumlah bank lain justru berhasil melalukan penggabungan yang memperkuat posisi mereka di pasar perbankan.
Rencana Merger BABP dan NOBU yang Gagal
Proses merger antara BABP dan NOBU berlangsung selama hampir tiga tahun. Dalam waktu tersebut, kedua bank menjalani berbagai tahapan seperti pembentukan tim merger, transaksi silang saham, hingga wacana merger paksa dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Awalnya, rencana ini ditargetkan rampung pada Agustus 2023. Namun, rencana ambisius tersebut resmi berakhir pada November 2025, setelah masuknya investor baru ke dalam struktur pemegang saham NOBU.
Hanwha Life telah mendapatkan persetujuan dari OJK melalui beberapa surat dan keputusan yang menunjukkan bahwa mereka lulus dalam penilaian kemampuan dan kepatutan sebagai calon pemegang saham pengendali. Dengan diterimanya pemberitahuan perubahan data perseroan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI pada 30 Juni 2025, pengambilalihan ini dinyatakan sah secara hukum. Hanwha Life kini menggenggam 40% kepemilikan saham Bank Nobu.
Pada 22 November 2025, OJK menyatakan bahwa proses merger antara BABP dan NOBU dihentikan. Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengharapkan agar masing-masing bank dapat lebih fokus pada target pertumbuhan yang telah direncanakan sebelumnya. OJK juga meminta pemegang saham pengendali kedua bank memperkuat struktur permodalan, baik melalui setoran modal tambahan maupun dengan menghadirkan investor strategis baru.
Daftar Bank yang Sukses Melakukan Penggabungan
Beberapa bank sukses melakukan penggabungan, konsolidasi, atau integrasi strategis yang memperkuat permodalan dan memperluas jangkauan bisnis. Berikut daftarnya:
-
Bank Syariah Indonesia (BSI)
BSI dibentuk pada 1 Februari 2021 melalui penggabungan BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Konsolidasi ini menciptakan bank syariah terbesar di Indonesia. Aset BSI tumbuh agresif, meningkat dari Rp239,58 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp408,61 triliun pada akhir 2024. Laba bersih BSI pada kuartal III/2025 mencapai Rp5,57 triliun. -
OCBC NISP
Pada 2024, Bank Commonwealth dilebur ke dalam OCBC NISP. Proses penggabungan ini memperkuat posisi OCBC dalam segmen ritel dan wealth management. Integrasi ini membawa sinergi yang diharapkan dapat memperluas akses nasabah terhadap jaringan luas OCBC. -
Bank Permata
Bank Permata mengalami perubahan kepemilikan setelah Bangkok Bank mengakuisisi mayoritas saham pada 2020. Setelah akuisisi, Bank Permata dan kantor cabang Bangkok Bank di Indonesia bergabung menjadi satu entitas. -
BCA Syariah
Pada 10 Desember 2020, BCA Syariah menggabungkan diri dengan Bank Interim Indonesia. Proses ini memberikan tambahan modal sekitar Rp300 miliar, meningkatkan modal inti menjadi sekitar Rp2,7 triliun dan aset perseroan menjadi Rp9,2 triliun.
OJK Mengajak Bank untuk Melakukan Konsolidasi
Sejalan dengan dinamika konsolidasi sektor perbankan, OJK saat ini sedang mengkaji penghapusan kategori Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) I. OJK mengimbau bank-bank kecil untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan mengarahkan mereka untuk melakukan konsolidasi hingga merger. Evaluasi mencakup kondisi bisnis, struktur keuangan, model bisnis, serta prospek pertumbuhan jangka menengah dan panjang.
Selain itu, OJK menekankan pentingnya penguatan infrastruktur teknologi informasi sebagai bagian dari transformasi digital. Meski proses penyatuan bank daerah tidak mudah karena ego kedaerahan, langkah konsolidasi tetap dinilai positif jika dilakukan secara komprehensif.
