banner 728x250

Pengalaman menonton tari dan karawitan di Kraton Yogyakarta

banner 120x600
banner 468x60

Pengalaman Menonton Pertunjukan Kesenian di Keraton Yogyakarta

Setiap pekan, pada hari Selasa dan Sabtu, saya selalu menghadiri pertunjukan kesenian yang digelar di Bangsal Sri Menganti, Keraton Yogyakarta. Tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi para penggemar seni dan budaya. Berbagai pertunjukan yang ditampilkan sangat menarik dan unik, tidak sering ditemukan di tempat lain.

Pada hari Selasa, biasanya disajikan pertunjukan uyon-uyon atau karawitan dan tari. Sementara itu, di hari Sabtu, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan wayang wong. Jadwal pertunjukan tersebut diumumkan melalui akun Instagram kratonjogja.even. Acara berlangsung pukul 09.00 hingga 11.00 pagi. Harga tiket masuk untuk wisatawan Nusantara sebesar 15 ribu rupiah, sedangkan untuk wisatawan asing sebesar 25 ribu rupiah. Meski harganya tergolong murah, kualitas pertunjukan yang ditampilkan sangat profesional dan memuaskan.

banner 325x300

Aturan dan Keunikan Penonton

Bagi setiap pengunjung Keraton Yogyakarta, terutama penonton pertunjukan di Bangsal Sri Menganti, ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah larangan memakai topi dalam bentuk apa pun. Namun, penggunaan blangkon, udeng, ikat kepala, dan hijab diperbolehkan. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesopanan dan kehormatan terhadap budaya Jawa.

Jumlah penonton setiap pertunjukan berkisar antara 130 hingga 170 orang. Ruangan ini memiliki kapasitas lesehan dengan 50 kursi khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas. Sayangnya, hanya sekitar 20% dari jumlah penonton yang menonton hingga selesai. Bisa dimaklumi karena banyak dari mereka hanya sekadar ingin melihat Keraton secara keseluruhan, bukan hanya menonton pertunjukan seni.

Pecinta Seni yang Setia

Penonton yang menonton hingga tuntas biasanya merupakan pecinta seni, pengamat, atau pemerhati seni. Mereka juga bisa jadi seniman atau anggota komunitas yang terlibat dalam pertunjukan tersebut. Dalam beberapa kali pertunjukan, jumlah penonton yang tetap sampai akhir hanya sekitar 5 hingga 10 orang. Ini menunjukkan bahwa pertunjukan seni seperti ini membutuhkan penggemar yang benar-benar tertarik dan paham akan nilai seninya.

Beberapa kali, saya sempat melihat wisatawan mancanegara yang menonton hingga akhir. Misalnya, suatu kali ada empat wisatawan asing yang menyaksikan tari dan karawitan hingga selesai. Tiga di antaranya merupakan rombongan kecil dari Belanda dengan seorang pemandu. Satu lagi adalah backpacker dari Jerman yang sangat menikmati alunan gamelan dan suara pesinden yang lembut dan mendayu.

Dari bahasa tubuhnya, tampaknya dia ingin berbicara dengan saya atau menanyakan sesuatu tentang pertunjukan tersebut. Sayangnya, dia tidak mengerti bahasa Inggris, sementara saya tidak paham bahasanya sama sekali. Yang bisa saya katakan hanya “Guten Tag” sambil melambaikan tangan kanan. Lalu saya pergi sambil berkata “Sori… bye…”

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *