banner 728x250

Jika Kesepakatan Tarif RI-AS Gagal, Rupiah Terancam Kekacauan Ekonomi

banner 120x600
banner 468x60



Maduraraya.id.CO.ID – JAKARTA

Kesepakatan tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan sedang dalam ancaman pembatalan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan ekonom terkait dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Menurut Wijayanto Samirin, seorang ekonom dari Universitas Paramadina, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah terbaik untuk memastikan bahwa isu pembatalan kesepakatan tersebut tidak menjadi kenyataan. Ia menyatakan bahwa jika tarif ekspor Indonesia ke AS benar-benar kembali ke tingkat 32%, maka dampaknya akan sangat signifikan terhadap perdagangan dan stabilitas moneter negara.

banner 325x300

“Semoga saja rumor tentang pembatalan kesepakatan tersebut tidak benar. Pemerintah harus berupaya maksimal untuk mencegah hal itu terjadi. Karena jika terjadi, akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas moneter,” ujar Wijayanto kepada Maduraraya.id, Rabu (10/12/2025).

Wijayanto menjelaskan bahwa posisi AS sangat penting bagi kinerja perdagangan Indonesia. Ekspor Indonesia ke AS mencakup sekitar 10% dari total ekspor nasional dan menyumbang hampir 50% dari total surplus perdagangan Indonesia. Selain itu, surplus tersebut juga menjadi sumber aliran devisa yang penting bagi Indonesia, terlebih saat ini neraca pembayaran sedang mengalami penurunan.

“Selain berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, surplus perdagangan dengan AS juga menjadi sumber devisa yang krusial. Mengingat kondisi neraca pembayaran kita yang semakin memburuk,” tambahnya.

Selain itu, Wijayanto menyoroti risiko trade diversion dan investment diversion jika Indonesia harus menghadapi tarif 32% sementara negara-negara pesaing seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina masih menikmati tarif sekitar 20%. Hal ini bisa mengalihkan arus perdagangan dan investasi dari Indonesia ke negara-negara lain.

“Ekonomi kita bisa sangat terpukul. Perhitungan awal saya, pertumbuhan ekonomi berpotensi tergerus antara 0,1% hingga 0,2%,” katanya.

Tidak hanya itu, nilai tukar rupiah juga diperkirakan akan mengalami tekanan. “Kita semua tahu, dalam satu tahun ini rupiah melemah terhadap 84,5% mata uang dunia,” ujarnya.

Dengan situasi ini, Wijayanto menyarankan pemerintah agar segera melakukan langkah strategis untuk menjaga hubungan dagang dengan AS. Ini termasuk meningkatkan koordinasi dengan pihak swasta dan sektor industri, serta memperkuat diplomasi perdagangan agar kesepakatan dapat tetap berjalan lancar.

Pemantauan terhadap perkembangan tarif dan kebijakan perdagangan internasional juga menjadi penting. Dengan demikian, Indonesia dapat lebih siap menghadapi tantangan dan peluang di pasar global.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *