Kondisi Jalur Terputus dan Kerusakan Infrastruktur di Sumatera Barat
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan bahwa beberapa jalur utama di wilayahnya masih dalam kondisi terputus pasca-bencana banjir bandang dan longsor. Salah satu jalur yang paling terdampak adalah jalur Padang–Padang Panjang dan Padang–Agam. Ia menjelaskan bahwa pemulihan akses di jalur tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
Berdasarkan laporan yang disampaikan, titik-titik seperti Malalak, Batu Busuak, Lubuk Minturun, hingga wilayah Pasaman Barat sempat mengalami isolasi total akibat bencana yang terjadi beberapa hari terakhir. Pemerintah daerah kini fokus pada pembukaan jalur prioritas agar distribusi logistik dapat kembali berjalan lancar dan bantuan bisa menjangkau warga terdampak.
Kerusakan Infrastruktur yang Luas
Selain jalan raya, kerusakan juga melanda berbagai infrastruktur penting, termasuk jembatan, irigasi, fasilitas pendidikan, serta sarana kesehatan. Lebih dari 30 ribu rumah dilaporkan mengalami dampak langsung dari bencana ini. Gubernur Mahyeldi menjelaskan bahwa penyebab utama bencana kali ini adalah curah hujan ekstrem yang turun hampir tanpa henti selama satu pekan.
“Curah hujan satu bulan turun dalam satu hari, bahkan ada yang mencapai 300 sampai 800 milimeter,” ujar Mahyeldi. Ia menambahkan bahwa kondisi tanah yang jenuh membuat material tanah bercampur air langsung bergerak cepat ke permukiman warga.
Pemimpin daerah ini juga menyebut fenomena ini sebagai kejadian tidak lazim yang terus berulang dalam beberapa pekan terakhir. Dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, termasuk kerusakan pada 13 ribu hektare lahan pertanian. Ia menaksir total kerugian akibat bencana mencapai lebih dari Rp1,2 triliun.
Data Korban Jiwa dan Kerusakan Rumah
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor di Sumatera. Data terbaru Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana BNPB pada Senin sore, 1 Desember 2025, mencatat total 604 korban meninggal dunia.
Rinciannya, Sumatera Utara mencatat korban tertinggi dengan 283 orang meninggal. Kemudian Sumatera Barat mencatat 165 korban jiwa, sementara Aceh melaporkan 156 korban meninggal. Di Aceh, tercatat pula 181 orang hilang serta lebih dari 1.800 warga mengalami luka-luka. Sementara di Sumatera Barat, korban hilang mencapai 114 orang dan 112 warga lainnya terluka. Adapun di Sumatera Utara, terdapat 169 orang hilang dan 613 warga mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
BNPB juga mendata kerusakan rumah warga, dengan catatan 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rusak sedang, dan 20.500 rumah rusak ringan.
Prioritas Pemulihan Akses
Pemulihan akses menjadi prioritas utama pemerintah daerah setelah bencana. Meskipun kondisi di lapangan mulai membaik, perbaikan di titik-titik terparah diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Fokus utama saat ini adalah membuka jalur prioritas agar distribusi logistik kembali lancar dan bantuan bisa menjangkau warga terdampak secara efektif.
