Indeks

FWD Dorong Perempuan Berinovasi Lebih Banyak

Inovasi dan Kepemimpinan Perempuan di Era Digital

FWD Insurance Indonesia, bekerja sama dengan UN Women Indonesia dan Kumpul.id, berupaya mendorong lebih banyak perempuan untuk berani berinovasi dan meningkatkan daya saing mereka di era ekonomi digital. Inisiatif ini dilakukan melalui program InnovateHer Academy 3.0 yang kini memasuki tahun ketiga pelaksanaannya.

Dalam peluncuran ‘InnovateHer Academy 3.0’ pada awal November 2025 di Jakarta, Presiden Direktur FWD Insurance Indonesia, Desy Widjaya, menyampaikan bahwa program ini bertujuan untuk mendukung para perempuan pendiri startup agar semakin percaya diri dalam menavigasi tantangan dan menumbuhkan bisnis mereka.

Program ini menjadi wadah pengembangan kapasitas bagi perempuan wirausaha untuk memperkuat inovasi dan kepemimpinan di dunia bisnis. Tren dunia startup kini bergeser dari model “unicorn” yang berfokus pada pertumbuhan cepat menuju konsep “zebra” yang menyeimbangkan keuntungan dengan dampak sosial dan keberlanjutan. Pergeseran ini menuntut para pendiri startup, terutama perempuan, untuk lebih adaptif dan inovatif dalam mengembangkan bisnisnya. Tujuannya bukan hanya mencapai kesuksesan finansial, tetapi juga menciptakan nilai positif dan kontribusi berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui InnovateHer Academy 3.0, FWD berupaya memberdayakan para perempuan pendiri startup untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan, strategi bisnis, dan kesiapan investasi. “Kami percaya bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk mendorong perubahan positif, baik di dunia bisnis maupun di masyarakat,” kata Desy.

Menurut laporan The Funding Gap Report oleh UBS (2023), perempuan kini memegang peran penting dalam dunia bisnis dengan sepertiga pemimpin bisnis mapan. Namun, akses pendanaan bagi startup yang dipimpin perempuan masih menjadi hambatan besar yang menghambat pertumbuhan dan inovasi. “Pendanaan untuk perempuan pendiri bisnis 20 persen lebih kurang dari laki-laki, berarti ada beberapa hal yang menghambat tumbuhnya bisnis,” kata Faye Wongso, Founder and Chairperson Kumpul.

Menanggapi hal tersebut, Head of Programmes UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, mengibaratkan ekosistem kewirausahaan perempuan seperti akuarium yang harus dijaga keseimbangannya agar tetap sehat dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa perempuan pendiri startup tidak hanya memerlukan akses pendanaan, tetapi juga dukungan berupa penguatan kapasitas, jejaring, dan pendampingan yang sesuai konteks. “Bukan sekadar kesetaraan, tetapi juga keadilan agar setiap perempuan mendapatkan dukungan sesuai potensinya,” tutur Dwi.

Senada dengan hal itu, Faye menegaskan bahwa menjadi perempuan pendiri startup bukanlah hal mudah karena tantangannya berlapis, mulai dari keterbatasan akses pendanaan hingga membangun kepercayaan diri dalam memimpin tim. Melalui program InnovateHer Academy 3.0, sebanyak 78,5 persen dari 26 peserta perempuan merasakan peningkatan signifikan dalam pengetahuan bisnis dan literasi digital. “Bagi kami, ini bukan sekadar data, melainkan bukti nyata bahwa kolaborasi dapat membuka peluang bagi lebih banyak perempuan untuk menciptakan bisnis yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi ekonomi Indonesia,” ujar Faye.

Exit mobile version