banner 728x250

China mengumumkan temuan cadangan emas bawah laut terbesar di Asia!

banner 120x600
banner 468x60



Pemerintah Tiongkok mengklaim telah menemukan cadangan emas bawah laut terbesar di Asia, yang berada di lepas pantai Provinsi Shandong. Penemuan ini memperkuat ambisi Beijing untuk memperluas basis sumber daya strategis di tengah lonjakan harga emas global.

Temuan tersebut ditemukan di perairan Laizhou, Kota Yantai, Provinsi Shandong. Pemerintah setempat menyatakan bahwa penemuan ini meningkatkan total cadangan emas terbukti Laizhou menjadi lebih dari 3.900 ton atau sekitar 137,57 juta ons. Angka ini setara dengan 26% dari total cadangan emas nasional Tiongkok. Dengan demikian, Laizhou kini menjadi wilayah dengan cadangan dan produksi emas terbesar di Tiongkok.

banner 325x300

Penemuan ini disampaikan dalam konferensi capaian rencana pembangunan lima tahun berjalan serta agenda untuk periode lima tahun berikutnya. Meski begitu, otoritas setempat belum memberikan rincian detail mengenai besaran cadangan emas yang ada di bawah laut tersebut.

Selain itu, Tiongkok juga melaporkan beberapa penemuan emas terbaru yang menunjukkan bahwa cadangan emas negara ini jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Beberapa bulan lalu, Tiongkok mengumumkan penemuan cadangan emas superbesar berkadar rendah pertama di Provinsi Liaoning, Tiongkok timur laut, dengan cadangan terkonfirmasi mencapai 1.444,49 ton atau sekitar 50,95 juta ons. Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok menyebutnya sebagai penemuan cadangan emas tunggal terbesar sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949.

Pada bulan yang sama, otoritas Tiongkok juga melaporkan penemuan cadangan emas di Pegunungan Kunlun, dekat perbatasan barat Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, dengan estimasi cadangan melebihi 1.000 ton atau sekitar 35,27 juta ons.

Sebelumnya, pada November 2023, Pemerintah Provinsi Shandong menyatakan bahwa wilayahnya menyimpan sekitar seperempat dari total cadangan emas Tiongkok, termasuk lebih dari 3.500 ton emas di Semenanjung Jiaodong. Kawasan tersebut merupakan sabuk tambang emas terbesar ketiga di dunia dan menjadi lokasi Laizhou.

Tiongkok saat ini menjadi produsen bijih emas terbesar di dunia. Menurut Asosiasi Emas Tiongkok, produksi emas nasional mencapai 377 ton atau sekitar 13,3 juta ons pada tahun lalu. Meskipun memimpin dari sisi produksi, Tiongkok masih tertinggal dari negara-negara seperti Afrika Selatan, Australia, dan Rusia dalam hal cadangan emas terbukti.

Emas memiliki peran penting sebagai lindung nilai terhadap volatilitas mata uang dan risiko keuangan, serta digunakan dalam berbagai aplikasi industri, termasuk komponen elektronik dan dirgantara. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok terus meningkatkan eksplorasi mineral dengan memanfaatkan teknologi mutakhir. Para geolog Tiongkok mengembangkan beragam perangkat canggih, mulai dari kecerdasan buatan (AI), sistem radar penembus tanah terkuat di dunia, hingga satelit eksplorasi mineral berpresisi tinggi.

Dorongan eksplorasi ini juga membuahkan hasil di luar sektor emas. Sebuah mineral baru yang diberi nama Jinxiuite oleh peneliti Tiongkok telah diakui oleh International Mineralogical Association, sebagaimana dilaporkan Xinhua pada Jumat. Mineral tersebut merupakan senyawa sulfida nikel–bismut–antimon–arsenik yang mengandung logam penting bagi industri strategis seperti dirgantara, kimia, dan manufaktur baterai. Penemuan ini dinilai signifikan mengingat Tiongkok menghadapi kekurangan pasokan kobalt yang cukup serius.

Pada tahun lalu, Tiongkok menggelontorkan investasi sebesar 115,99 miliar yuan atau sekitar US$16,47 miliar untuk eksplorasi geologi. Sejak dimulainya rencana pembangunan lima tahun pada 2021, total belanja eksplorasi mineral telah mendekati 450 miliar yuan dan menghasilkan penemuan sekitar 150 lokasi cadangan mineral baru, menurut Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok.

Penemuan-penemuan tersebut terjadi di tengah lonjakan harga emas global yang terus berlanjut, didorong oleh volatilitas mata uang, ketegangan geopolitik, serta pembelian agresif oleh bank sentral, khususnya di negara-negara berkembang yang berupaya mendiversifikasi cadangan devisa mereka.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *