banner 728x250

Bencana Sumatera: 3 Faktor Pemicu Bahaya Ekstrem dan Korban Jiwa

banner 120x600
banner 468x60



SEMARANG, Maduraraya.id

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa bencana besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November lalu disebabkan oleh kombinasi tiga faktor utama.

“Tiga faktor penting tadi mulai dari antropogenik kita yang tidak bersahabat dengan alam, kemudian geomorfologi kita, dan yang terakhir hidrometeorologi dari perubahan iklim,” kata Hanif dalam sambutannya pada acara UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Selasa (16/12/2025).

banner 325x300

Menurut Hanif, ketiga faktor ini berkontribusi terhadap bahaya ekstrem yang berisiko menimbulkan korban jiwa. Adapun bencana banjir dan longsor di tiga provinsi ini menewaskan lebih dari 1.000 orang dan 200 orang lainnya masih hilang.

“Bahaya ekstrem ini kemudian menimbulkan korban jiwa karena beberapa hal. Pertama, memang karena curah hujan yang cukup sangat tinggi,” ucapnya.

Lebih lanjut, Hanif menjelaskan bahwa bahaya ekstrem tersebut diperparah oleh infrastruktur yang tidak ramah lingkungan dan kurangnya kesiapsiagaan masyarakat.

“Kedua karena infrastruktur kita tidak bersahabat dengan alam. Kemudian kita belum siap menghadapi bencana semacam ini,” ujarnya.

Hanif juga menyoroti budaya bermukim masyarakat di wilayah rawan bencana, seperti bantaran sungai dan lereng bukit.

“Budaya bangsa kita yang masih hidup di daerah-daerah rawan bencana seperti di sungai dan di tebing-tebing bukit. Ini semua yang harus kita dalami hari ini,” tuturnya.

Dari segi geomorfologi, Hanif menyatakan bahwa kondisi Sumatra bagian Utara saat ini tidak stabil.

“Mulai dari antropogenik kita, dari kultur kita, budaya kita yang telah melakukan kegiatan deforestasi yang cukup luas,” bebernya.

Sementara itu, dari faktor hidrometeorologi, Hanif menyoroti bahwa kondisi nyata dapat dilihat dari siklon atau topan yang jarang terjadi di daerah dengan lintang rendah, termasuk Indonesia.

“Kita berada di daerah tropis. Kemudian kita merupakan daerah kepulauan. Sehingga dengan demikian kita merupakan negara yang sangat riskan dengan perubahan iklim ini,” katanya.

Hanif menegaskan bahwa situasi ini merupakan momentum yang tepat untuk merenungkan akar penyebab bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

“Inilah yang kemudian mengharuskan kami diskusi dengan teman-teman universitas untuk mengkaji ulang kajian lingkungan hidup strategis, sebagai landasan penyusunan tata ruang di provinsi ketiga provinsi tersebut. Kami sudah memberikan keputusan menteri untuk melakukan evaluasi pada tiga provinsi tersebut,” ungkapnya.

Penyebab Bencana yang Harus Diperhatikan

Beberapa faktor utama yang menyebabkan bencana besar di tiga provinsi tersebut adalah:

  • Antropogenik

    Kegiatan manusia seperti deforestasi dan penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan telah menciptakan kondisi yang rentan terhadap bencana. Hal ini memperburuk stabilitas geologis wilayah.

  • Geomorfologi

    Wilayah Sumatra Utara memiliki kondisi geografis yang tidak stabil. Perubahan bentuk permukaan bumi akibat aktivitas manusia meningkatkan risiko bencana seperti tanah longsor.

  • Hidrometeorologi

    Perubahan iklim yang terjadi secara global memengaruhi pola cuaca. Siklon dan topan yang sebelumnya langka kini sering muncul di daerah tropis seperti Indonesia.

Tantangan Infrastruktur dan Kesiapan Masyarakat

Selain faktor-faktor alam, Hanif menyoroti pentingnya infrastruktur yang ramah lingkungan. Infrastruktur yang tidak sesuai dengan kondisi alam dapat memperparah dampak bencana. Misalnya, pembangunan di daerah dataran rendah atau dekat sungai bisa meningkatkan risiko banjir.

Selain itu, kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana juga menjadi isu penting. Banyak warga yang tinggal di daerah rawan bencana tanpa kesadaran akan bahaya yang mengancam. Peningkatan kesadaran dan edukasi tentang mitigasi bencana diperlukan untuk mengurangi risiko korban jiwa.

Langkah yang Dilakukan Pemerintah

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi ancaman bencana. Salah satunya adalah evaluasi terhadap kajian lingkungan hidup strategis di tiga provinsi tersebut. Evaluasi ini bertujuan untuk menyusun tata ruang yang lebih aman dan berkelanjutan.

Selain itu, kerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian juga dilakukan untuk memperdalam pemahaman tentang penyebab bencana dan solusi jangka panjang.

Pentingnya Kolaborasi

Hanif menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi sangat penting dalam menghadapi tantangan lingkungan. Dengan pendekatan yang holistik, diharapkan dapat mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *