KUALA LUMPUR – Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, percaya bahwa upaya diplomasi yang berkelanjutan antara Thailand dan Kamboja mampu mengatasi ketegangan di perbatasan negara-negara tersebut. Dalam pernyataannya di Kuala Lumpur, Rabu (10/12/2025), Anwar menyampaikan bahwa meskipun belum ada penyelesaian penuh yang dicapai, komunikasi yang terus-menerus telah mencegah terjadinya insiden lebih serius.
“Meskipun belum ada penyelesaian tuntas yang dicapai, upaya diplomasi yang berkelanjutan telah memastikan tidak terjadinya insiden yang lebih serius,” ujar Anwar Ibrahim.
Ia menjelaskan bahwa dirinya telah menghubungi Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, untuk membahas perkembangan situasi di wilayah perbatasan. Anwar mengapresiasi keterbukaan dan kesiapan kedua pemimpin negara tersebut untuk melanjutkan dialog demi meredakan ketegangan dan menghindari kesalahpahaman yang dapat memperburuk kondisi.
Anwar menegaskan bahwa Malaysia akan terus mendukung proses penyelesaian damai, dialog berdasarkan hukum internasional, serta kerja sama regional untuk menjaga stabilitas kawasan. Ketegangan antara pasukan Thailand dan Kamboja kembali mencuat dalam beberapa waktu terakhir, dipicu oleh insiden pelepasan tembakan dan ledakan ranjau di beberapa titik perbatasan.
Kejadian itu memicu saling tuduh dan pembatalan sebagian perjanjian gencatan senjata, serta meningkatnya penggunaan artileri dan serangan udara yang menyebabkan korban sipil dan pengungsian massal.
PM Malaysia Anwar Ibrahim, yang merupakan sosok cukup aktif dalam menengahi ketegangan antara dua negara tetangga, memiliki peran penting sebagai Ketua ASEAN 2025. Pada Oktober lalu, para pemimpin Kamboja dan Thailand telah menandatangani perjanjian damai di sela KTT Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai komitmen kedua negara untuk menurunkan ketegangan.
Upaya Diplomasi yang Terus Berlangsung
Beberapa langkah yang dilakukan oleh Thailand dan Kamboja dalam rangka menjaga stabilitas kawasan antara lain:
- Dialog yang intensif – Kedua negara terus melakukan dialog untuk mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.
- Peningkatan komunikasi bilateral – Kementerian Luar Negeri dari kedua negara bekerja sama untuk memastikan informasi yang akurat dan transparan.
- Pemantauan perbatasan – Tim gabungan dari Thailand dan Kamboja melakukan patroli bersama untuk menghindari konflik yang tidak diinginkan.
Tantangan yang Dihadapi
Meskipun upaya diplomatik terus berjalan, beberapa tantangan masih menghambat proses penyelesaian:
- Perbedaan pandangan – Kedua negara memiliki pendapat berbeda mengenai batas wilayah dan hak atas sumber daya alam.
- Ketidakpastian politik – Perubahan kebijakan atau kepemimpinan di salah satu negara dapat memengaruhi dinamika hubungan bilateral.
- Dukungan internasional – Beberapa negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok juga memiliki kepentingan dalam situasi ini, sehingga memengaruhi keputusan yang diambil.
Peran Malaysia dalam Menengahi Konflik
Sebagai Ketua ASEAN 2025, Malaysia memiliki peran penting dalam memfasilitasi dialog antara Thailand dan Kamboja. PM Anwar Ibrahim telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga perdamaian di kawasan dengan:
- Mendorong dialog langsung – Memastikan bahwa pemimpin negara-negara terkait dapat berbicara secara langsung tanpa adanya prasangka.
- Menyediakan ruang diskusi – Mengundang delegasi dari Thailand dan Kamboja untuk bertemu di Kuala Lumpur dalam forum resmi ASEAN.
- Membangun kepercayaan – Melalui pertemuan-pertemuan rutin, Malaysia berusaha membangun rasa percaya antara kedua belah pihak.
Tindakan yang Diperlukan
Untuk memastikan keberhasilan penyelesaian konflik, beberapa tindakan yang perlu dilakukan antara lain:
- Memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa – Membentuk lembaga khusus yang dapat menengahi perselisihan antar negara.
- Meningkatkan kerja sama regional – Mendorong negara-negara ASEAN lainnya untuk ikut serta dalam upaya menjaga stabilitas kawasan.
- Meningkatkan partisipasi masyarakat – Melibatkan masyarakat setempat dalam proses dialog untuk memastikan bahwa solusi yang diambil benar-benar mencerminkan kebutuhan mereka.
Dengan komitmen yang kuat dan dukungan dari seluruh pihak, diharapkan konflik antara Thailand dan Kamboja dapat segera diselesaikan dengan damai dan berkelanjutan.
