Peristiwa Vandalisme yang Mengguncang Kota Surabaya
Surabaya kembali dihebohkan oleh aksi vandalisme yang merusak karya seni publik. Sebuah mural yang baru saja selesai dikerjakan di kawasan Jalan Gubeng Pojok kini tampak rusak dan dipenuhi coretan liar. Aksi tersebut dilakukan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, yang tidak menghargai usaha para seniman muda dalam menciptakan karya yang indah.
Mural tersebut merupakan hasil dari kreativitas anak-anak muda Kota Pahlawan, yang berusaha memperindah wajah kota. Namun, tindakan tidak bertanggung jawab ini membuat mereka kecewa. Mengetahui hal tersebut, Pemerintah Kota Surabaya segera bertindak cepat untuk menangani masalah ini.
Langkah Tegas dari Wali Kota Surabaya
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, langsung memerintahkan jajarannya untuk menelusuri pelaku vandalisme dengan menggunakan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar lokasi. Ia menyatakan bahwa perbuatan merusak mural bukan sekadar aksi iseng, tetapi merupakan bentuk nyata perusakan fasilitas umum yang bisa dijerat hukum pidana.
“Nah ini sudah saya minta itu sama teman-teman, kan ada CCTV-nya, diproses lah. Makanya saya berharap, kalau sudah dimural jangan dirusak,” kata Eri dengan nada tegas.
Ia juga menegaskan bahwa hukuman bagi pelaku harus setimpal dengan perbuatannya. Mural tersebut, katanya, adalah hasil kerja keras para seniman muda yang telah mencurahkan waktu dan tenaga demi memperindah wajah kota.
“Arek-arek mengerjakan susahnya seperti itu, divandalisme. Ini saya minta cari CCTV, proses sampai dapat, hukumannya jangan ringan-ringan, yang berat sekalian. Karena merusak fasilitas umum,” ujarnya.
Upaya Penelusuran Pelaku
Saat ini, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tengah menelusuri sejumlah rekaman CCTV untuk memastikan identitas pelaku. Upaya ini, menurut Eri, sudah menunjukkan arah yang menjanjikan.
“Insyaallah ada beberapa CCTV tiga atau dua. Pelaku lagi dicari itu sama teman-teman. Saya bilang goleki sampai ketemu,” katanya.
Selain menyoroti aspek hukum, Eri juga mengingatkan bahwa mural tersebut dibangun menggunakan anggaran pemerintah, sebagai bagian dari proyek mempercantik kota dan memperkuat identitas budaya Surabaya.
“Karena ini merusak fasilitas umum, terus dibangun dengan uang negara, mengerjakannya susah,” ujarnya.
Makna Mendalam dari Mural di Jalan Gubeng Pojok
Mural di Jalan Gubeng Pojok memiliki makna mendalam. Itu menggambarkan keberagaman suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan di Surabaya. Bagi Eri, tindakan vandalisme bukan hanya mencoreng dinding, tetapi juga menodai semangat kebersamaan yang ingin disampaikan lewat karya itu.
Menurutnya, tindakan merusak mural adalah bentuk tidak menghargai usaha orang lain dan merusak harmoni yang telah dibangun di kota ini. Ia berharap pelaku segera bertobat dan menyadari kesalahannya.
“Semoga yang tangannya jahil, jadi gak jahil lagi. Semoga yang tangannya jahil, dibuka hatinya biar sadar. Bagaimanapun dia ya wargaku. Maka satu-satunya yang bisa membolak-balikkan hatinya manusia adalah Gusti Allah,” pungkasnya dengan nada lirih.


















