banner 728x250

BGN soal sopir MBG tabrak sekolah: Pengantaran cukup di depan pagar

banner 120x600
banner 468x60

Perketat Standar Operasional Pengantaran Makan Bergizi Gratis

Badan Gizi Nasional (BGN) kini memperketat standar operasional prosedur (SOP) dalam pengantaran Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya kejadian mobil pengangkut MBG yang menabrak guru dan siswa SDN Kalibaru 01 Pagi, Jakarta Utara. Dengan adanya perubahan SOP ini, diharapkan tidak ada lagi insiden serupa yang terjadi di masa depan.

Dalam kasus tersebut, sopir mobil boks pembawa MBG, Adi Irawan (34), telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian yang terjadi bukan hanya sekadar kecelakaan biasa, tetapi juga melibatkan kesalahan prosedur yang harus diperhatikan lebih serius.

banner 325x300

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengungkapkan bahwa mobil yang membawa MBG hanya diperbolehkan mengantar makanan hingga di depan pagar sekolah. Ia menekankan pentingnya menjaga jarak agar anak-anak tidak terlibat dalam proses pengantaran.

“Usahakan tidak masuk membawa makanan ke halaman. Cukup diantar di depan pagar. Kenapa? Karena meskipun tidak ada upacara, anak-anak itu kan sering lari-lari di halaman,” kata Nanik saat berbicara dalam acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola MBG, Serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG, di Ballroom Aston Inn, Lumajang, Sabtu (13/12).

Selain itu, Nanik menegaskan bahwa pengendara mobil pengantar MBG haruslah seseorang yang memiliki profesi sebagai sopir. Tidak boleh menggunakan sopir cabutan atau orang yang tidak memiliki keahlian khusus dalam mengemudi.

“Harus punya SIM, tidak sekadar SIM A, karena SIM A sudah kayak SIM C, asal dapat. Kenapa tidak asal SIM A, supaya dia menguasai pemakaian mobil matic ataupun manual. Dia harus berprofesi sopir,” ujar Nanik.

Ia juga menyampaikan permintaan kepada mitra kerja BGN agar tidak sembarangan dalam memilih pengemudi. “Saya minta perhatian sama mitra, jangan karena anda mau bayar murah, lalu main cabut saja. Sekarang saya rekomendasikan agar SPPG itu disuspend dalam waktu yang tidak ditentukan. Nanti kalau ada kejadian, saya pun akan merekomendasikan hal yang sama kepada bapak ibu,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nanik meminta Kepala SPPG untuk mengatur jam kerja agar dapat mengawasi distribusi MBG secara efektif. Menurutnya, dalam kejadian sebelumnya, Kepala SPPG tidak tahu ke mana sopir pergi saat mengantarkan makanan.

“Ini yang kejadian, Ka SPPG-nya nggak tahu ke mana, pada saat sopir mengantar makanan. Berarti dia nggak tahu ke mana sopir itu. Anda harus bertanggung jawab. Ka SPPG harus memastikan makanan sampai ke sekolah, dan tunggu ada masalah apa. Hidupkan handphone, jangan susah dihubungi,” ujarnya.

Dengan langkah-langkah yang diberlakukan, BGN berharap proses pengantaran MBG dapat berjalan dengan lebih aman dan efisien. Semua pihak terkait diminta untuk bekerja sama dalam menjaga keselamatan dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *