Kelompok Suporter Persela Lamongan Kecam Pengambilalihan Saham oleh Istri CEO
Kelompok suporter Persela Lamongan, Curva Boys 1967, memberikan peringatan keras kepada manajemen klub setelah mengetahui bahwa istri dari CEO Persela, Fariz Julinar Maurisal, melakukan akuisisi saham mayoritas di PSIS Semarang. Kejadian ini memicu reaksi kuat dari para penggemar setia tim yang dikenal dengan julukan Laskar Joko Tingkir.
Datu Nova Fatmawati, istri dari Fariz Julinar Maurisal, berhasil mengakuisisi saham sebesar 74,25 persen dari PSIS Semarang. Dengan akuisisi ini, Datu menjadi pemegang saham utama PT Mahesa Jenar Semaran (MJS), yang sebelumnya dimiliki oleh Yoyok Sukawi. Perubahan kepemilikan ini langsung memicu kekecewaan dari masyarakat fanatik Persela Lamongan.
Curva Boys 1967 melalui akun Instagram resmi mereka @curvaboys_1967 merilis pernyataan tegas pada 20 November 2025. Dalam rilis tersebut, mereka menyampaikan ketidakpuasan terhadap janji-janji kosong dan performa yang tidak memuaskan dari manajemen klub.
“Kami, para pewaris sejati Laskar Joko Tingkir, sudah muak dan lelah dengan janji-janji kosong dan performa mediocre!” tulis pernyataan resmi Curva Boys 1967. Mereka juga mempertanyakan alasan manajemen mengizinkan istri CEO mengambil alih saham klub lain.
“Di saat fokus kami 100 persen pada misi suci KEMBALI KE LIGA 1, justru ada kabar akuisisi saham klub lain—meski dilakukan oleh istrimu! FOKUSMU TERBELAH! Loyalitasmu dipertanyakan,” tambah pernyataan tersebut.
Pada bagian akhir, Curva Boys 1967 menegaskan bahwa Persela harus dianggap sebagai sebuah klub yang memiliki nilai dan harga diri, bukan hanya sebagai alat bisnis. Mereka menyampaikan ultimatum bahwa jika Persela masih berkutat di Liga 2 hingga akhir musim, maka para pengurus klub tidak akan bisa tenang di Lamongan.
“Jika di akhir musim, Persela masih berkutat di Liga 2, maka jangan harap kalian bisa duduk tenang di Lamongan! Dengarkan ini baik-baik: Persela adalah harga diri kami! Jangan jadikan sebagai alat bisnis atau anak tiri!” pungkas pernyataan tegas dari Curva Boys 1967.
Sebagai informasi, Persela Lamongan dan PSIS Semarang sama-sama berada di grup timur Liga 2 2025/2026. Konflik kepentingan dikhawatirkan terjadi karena kedua tim memiliki misi yang berbeda. Laskar Joko Tingkir sedang berjuang untuk promosi ke Super League musim depan, sementara PSIS Semarang yang masih menghuni posisi juru kunci, bertekad untuk setidaknya bertahan di Liga 2 musim depan.
Komentar dan Tindakan Lanjutan
Curva Boys 1967 menuntut adanya transparansi dan kesetiaan dari manajemen Persela Lamongan. Mereka menegaskan bahwa dukungan dari para penggemar tidak bisa dibeli dengan uang atau keuntungan bisnis semata. Sebaliknya, klub harus menjaga reputasi dan komitmennya terhadap para pendukung setia.
Beberapa penggemar lain juga turut merespons pernyataan Curva Boys 1967. Mereka menyerukan agar manajemen Persela lebih responsif terhadap keluhan para pendukung dan menjaga fokus pada tujuan utama klub, yaitu promosi ke Liga 1.
Selain itu, banyak pihak mengkhawatirkan dampak dari akuisisi saham oleh istri CEO terhadap hubungan antara Persela Lamongan dan PSIS Semarang. Meskipun keduanya berada di wilayah yang sama, konflik kepentingan bisa saja terjadi jika manajemen tidak mampu mengelola situasi dengan baik.
Reaksi dari Manajemen Klub
Sampai saat ini, belum ada respons resmi dari manajemen Persela Lamongan terkait pernyataan Curva Boys 1967. Namun, beberapa sumber internal menyebutkan bahwa manajemen sedang mempertimbangkan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas klub dan menjawab kekhawatiran para penggemar.
Para pengamat sepak bola lokal juga menilai bahwa kejadian ini menjadi momentum penting bagi Persela Lamongan untuk menunjukkan komitmennya terhadap para pendukung dan menjaga integritas klub dalam jangka panjang.


















