banner 728x250

Siswa SMP Tangerang Tewas Usai Dipukul Teman, Dugaan Bully Berujung Maut

banner 120x600
banner 468x60

Kasus Bullying di SMP Negeri 19 Tangerang Selatan yang Berujung pada Kematian Siswa

Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan setelah seorang siswa SMP Negeri 19 Tangerang Selatan (Tangsel) berinisial MH (13) meninggal dunia. Kejadian ini terjadi pada Minggu, 16 November 2025, setelah korban menjalani perawatan intensif selama seminggu di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.

MH, yang masih duduk di kelas 1 SMP, diduga menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman sekelasnya. Sebelum meninggal, korban sempat mengalami kondisi kritis dengan gejala seperti gangguan penglihatan dan kelumpuhan. Hal ini diduga disebabkan oleh pukulan yang dialaminya dari teman sebangkunya di sekolah pada Senin, 20 Oktober 2025 lalu.

banner 325x300

Pihak keluarga kini menuntut pertanggungjawaban penuh atas kasus yang berujung fatal ini, sementara Polres Tangsel menegaskan akan mengusut tuntas dugaan tindak pidana tersebut.

Kabar Duka Mengguncang Keluarga

Kabar duka meninggalnya MH dikonfirmasi oleh Perwakilan kuasa hukum keluarga korban, Alvian Adji Nugroho. Menurut Alvian, MH meninggal dunia pada pukul 06:00 WIB. “Kabar duka ini disampaikan pihak keluarga, bilang MH sudah ‘tidak ada’ saat dibangunkan,” ujar Alvian di Serpong Tangsel, Minggu (16/11/2025).

Alvian mengatakan, MH telah menjalani perawatan di rumah sakit sejak Kamis pekan lalu, tak lama setelah proses mediasi yang dilakukan terkait dugaan pemukulan yang menimpanya. Dengan demikian, MH telah dirawat selama lebih dari satu minggu. Ia juga menegaskan bahwa MH tidak memiliki riwayat penyakit apa pun sebelum kejadian.

“Tidak ada riwayat sakit,” ungkap Alvian. Terkait dugaan adanya tumor, Alvian menegaskan mereka belum menerima penjelasan pasti dari dokter dan hingga kini penyebab pasti meninggalnya MH belum dapat dipastikan.

Pengakuan Keluarga tentang Pemukulan

Menurut keterangan keluarga, MH dipukul menggunakan kursi besi oleh pelaku yang merupakan teman sekelasnya di dalam lingkungan sekolah. Sepupu korban, Rizki Fauzi (29), mengatakan, korban di-bully saat jam istirahat sekolah. “Pada tanggal 20 Oktober itu, adik sepupu saya, kepalanya kena korban bully waktu jam istirahat sekolah.”

Setelah korban mengadu, keluarga langsung mendatangi sekolah untuk melakukan mediasi dengan pihak pelaku pada 22 Oktober 2025. “Udah selesai mediasi itu, pihak si pelaku mau bertanggung jawab sampai sepenuhnya untuk biaya pengobatan,” terang Rizki.

Namun, ternyata setelah dirawat di rumah sakit, pihak pelaku lepas tanggung jawab. “Malah dari pihak keluarga kami disuruh cari pinjaman uang ke orang-orang terdekat gitu,” sambungnya.

Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami gangguan kesehatan berupa lumpuh dan rabun. “Dampak kesehatannya dari tanggal 21 Oktober tuh mata udah mulai agak-agak rabun tuh. Dari kepala lari ke mata,” papar Rizki. “Badan juga semuanya agak-agak udah kayak nggak ada tenaga gitu. Kayak lumpuh-lumpuh gitu, tapi masih sadar,” jelasnya.

Kecurigaan Orang Tua Korban

Ibu MH, Ny (36), menyatakan bahwa tindakan perundungan yang dialami anaknya bukan pertama kali terjadi. Dengan nada rintihan dan mata berkaca-kaca, wanita berkerudung itu mengatakan, anaknya kerap dirundung sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). “Dari MPLS udah kena juga dia. Digebukin sampai tiga kali katanya,” ujar Ny saat ditemui di kediamannya, Senin (10/11/2025).

Menurut Ny, sejak saat itu anaknya berulang kali mendapat perlakuan kasar dari orang yang sama. Puncaknya, korban harus melakukan perawatan intensif di rumah sakit dan didiagnosa dokter mengalami rabun dan terancam lumpuh. “Pelakunya dari dulu anak itu aja, teman satu kelasnya. Pernah anak saya katanya waktu lagi nulis gitu punggungnya ditendang, terus tangannya juga ditusuk pakai sedotan atau pulpen gitu.”

“Kata dokter, saraf halusnya ada yang kena akibat benturan itu, makanya dia rabun, dan sekarang kondisinya masih lemes gak bisa diajak jalan, kayak lumpuh itu,” lirih Ny.

Meskipun kerap menjadi korban perundungan, anaknya tidak pernah bercerita kepada keluarga terhadap kekerasan yang dialami di sekolah. “Awalnya gak cerita dia, jadi kejadian itu tanggal 20, besoknya dia baru cerita. Itu juga karena saya tanyain, soalnya saya lihat dia jalan nabrak-nabrak terus,” tutur Ny.

Respons dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tangsel mengaku sudah mengetahui dugaan kasus bullying ini. Kepala Dindikbud Tangsel, Deden Deni, mengatakan bahwa pihaknya langsung memfasilitasi pertemuan antara korban dan terduga pelaku untuk melakukan mediasi. “Dari awal sudah kita tangani, kita dampingi. Ini kejadiannya tanggal 20 Oktober, sudah kami mediasi, masing-masing orang tua sudah ketemu dengan pihak sekolah, ada juga pendamping, ada dari PPA juga, sudah ada,” kata Deden, Senin (10/11/2025).

Menurut Deden, pihaknya belum mengetahui secara rinci terkait duduk perkara adanya tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah itu. “Masih kita ini (telusuri), tapi memang ada kejadian anak lagi bercanda barangkali ya. Cuman pastinya seperti apa kejadiannya, saya masih cari informasi,” ungkap Deden.

Penyelidikan oleh Polres Tangsel

Polres Tangerang Selatan (Tangsel) menegaskan komitmennya dalam mengusut dan menangani dugaan kasus perundungan atau bully di SMP Negeri 19 Tangsel. Jajaran Polres Tangsel saat ini mulai melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah saksi serta ahli dalam mengungkap dugaan kasus yang menimpa korban MH.

Kapolres Tangsel, AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang, mengatakan bahwa dalam penanganan kasus tersebut pihaknya juga turut bekerja sama dengan Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie, beserta jajarannya. “Dimana memang saat ini dari pihak korban, khususnya orang tua, masih fokus untuk melakukan proses pengobatan kepada diduga korban,” ujarnya saat ditemui di Mapolres Tangsel, Sabtu (15/11/2025).


banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *