Tradisi Ngusar ke Makam Leluhur, Masyarakat Jaga Kesadaran Sejarah

SAMPANG – Nyekar atau ngusar adalah istilah yang digunakan dalam tradisi ziarah kubur. Aktivitas nyekar ini biasanya dengan cara menaburkan bunga di atas makam. Selain itu, peziarah biasanya juga membacakan doa untuk orang yang telah meninggal.

Di tengah suasana suka cita Idulfitri, banyak keluarga menyempatkan diri mengunjungi makam leluhur, membersihkan, menabur bunga, dan mengirimkan doa.

Salah satunya di Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang . Tradisi ini mencerminkan keyakinan bahwa hubungan dengan orang yang telah meninggal tidak terputus.

Doa-doa yang dipanjatkan di sisi makam diyakini dapat meringankan beban almarhum dan memberikan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dayat warga setempat mengatakan bahwa, Ziarah kubur dapat menjadi momen bagi anak-anak untuk mendoakan orang tua mereka yang telah meninggal.

“Doa anak saleh merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam dan diyakini dapat memberikan manfaat bagi almarhum/almarhumah, ” ujarnya. Senin, 01/04/2025.

Menurutnya, lebih dari sekadar ritual, ziarah kubur saat Lebaran memiliki makna mendalam. Dalam konteks ini, ziarah kubur berfungsi sebagai “memento mori” (ingatlah kematian), yang mendorong kita untuk hidup dengan lebih bijaksana dan bermakna.

“Perekat Tali Silaturahim, ziarah kubur sering kali menjadi momen bagi keluarga besar untuk berkumpul. Dalam suasana yang penuh haru, mereka mengenang almarhum dan mempererat tali persaudaraan,” terangnya.

Momen ini menjadi kesempatan untuk saling berbagi cerita, mengenang kenangan indah, dan saling menguatkan.

Mengunjungi makam orang-orang terkasih adalah cara untuk mengungkapkan cinta dan kerinduan yang mendalam.

“Meskipun mereka telah tiada, kehadiran kita di makam mereka adalah bentuk penghormatan dan kasih sayang yang abadi, ” pungkasnya. (Md).