Ragam  

Berbondong-bondong Menuju Makam, untuk Melakukan Budaya Unik

SAMPANG – warga dari tiga kampung itu jalan kaki menuju makam Buju’ Tonggul. Masing-masing dari tiga kampung itu, Kampung Lembung Dusun Nangger Desa Plakaran, kampung Kosong/Kasong dan Kampung Tonggul Desa Bancelok Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang. Mereka berbondong-bondong menuju makam Tangghulung (tempat pesarean Buju’ Tonggul). Kejadian itu sudah ada sejak dulu, dari orang yang alim dimasa tersebut. Hal itu diungkap langsung oleh keturunan kiyai sepuh (pembabat ajaran Islam di beberapa kampung yang terletak di dua desa itu) Gus Tollib, Sabtu (7/1/23).

Ia menceritakan, bahwa warga dari tiga kampung itu berjalan kaki menuju makam Tangghulung untuk mempertahankan budaya mulod makam.
“Yang datang itu, mulai dari anak-anak hingga para sesepuh,” ujarnya.

Sementara mulod makam, ia lanjut menceritakan, dilakukan di bulan maulid dengan tujuan memperingati hari lahirnya kanjeng nabi Muhammad SAW. Sementara tempat yang dituju warga, termasuk makam Tangghulung Dusun Tonggul Desa Bancelok.
“Mulod makam itu dilakukan di makam, yakni makam tempat pesarenan Buju’ Tonggul,” tuturnya.

Menurutnya, mulod Makam yang hingga kini dilestarikan, sudah dilakukan sejak dulu oleh para kiyai-kiyai sepuh. Hanya saja untuk tahun dan pencetusnya ia kurang mengetahui.
“Dari dulu sudah ada mulod makam, hanya saja saya tidak tau persis siapa dan tahun berapa mulod makam dicetuskan,” imbuhnya.

Terlepas dari itu, dauh beliau, Kiya Syarifuddin termasuk pembabat ajaran Islam melalui pesantren di beberapa kampung itu. Artinya, warga di beberapa kampung itu mendalami ajaran Islam sejak kiyai Syarifuddin dari Prajjan Camplong masuk ke dusun Tonggul untuk mendirikan pesantren. Bahkan, hadirnya beliau juga berperan penting pada penamaan beberapa kampung setempat.
“Kalau yang kali pertama membabat Islam dengan pesantren adalah kiyai sepuh, yakni kiyai Syarifuddin. Dimasa beliau, pesantren memang jarang. Sehingga masyarakat yang awam tentang Islam, belajar ke beliau,” ungkapnya.

Teruntuk ritual Mulod Makam sendiri, Ia lanjut menuturkan, sama dengan bacaan maulid nabi pada umumnya. Hanya saja, yang menjadi pembeda antara maulid nabi yang dilakukan oleh warga secara pribadi dengan mulod makam, terletak pada tempatnya saja. Namun, hal itu menjadi ciri khas tersendiri bagi kekayaan budaya Sampang.
“Dengan seperti itu, mulod makam memiliki ciri khas tersendiri. Serta menjadi sesuatu yang unik di masa sekarang,” paparnya.
(AHe)