Ragam  

Menilik Masa Kejayaan Stasiun Kereta Api di Sampang

SAMPANG – Saat masih berada di bawah pemerintahan Kolonial Belanda, transportasi kereta api begitu diandalkan, baik untuk angkutan barang maupun penumpang. Belanda mulai membangun ribuan jaringan rel kereta api pasca kebijakan tanam paksa, tak terkecuali di Pulau Madura.
Stasiun Sampang dibuka pada 11 Maret 1901 oleh Madoera Stoomtram Maatschappij, bersamaan dengan pembukaan jalur Kwanyar–Kalianget ruas Tanjung–Sampang, kemudian tersambung dengan jalur menuju Balega (Blega) yang dibuka pada 1 Juli 1901

Stasiun Sampang (SPG) adalah stasiun kereta api Saksi sejarah bahwa dulu pernah ada stasiun kereta api yang terletak di Jalan Teuku Umar, Gunung Sekar, Sampang, termasuk dalam Wilayah Aset VIII Surabaya. Letak stasiun ini berdekatan dengan Pasar Srimangunan. Stasiun ini dahulu melayani kereta api ke berbagai jurusan di Pulau Madura.

Rio yang menempatin Salah satu tempat perlintasan kereta api, mengatakan dulu peran kereta di Pulau Garam tersebut bahkan sulit tergantikan dan jadi transportasi utama pengangkut komoditas maupun manusia. Lantaran kendaraan darat belum sebanyak sekarang.
“Dulu di Madura ada kereta, ramai penumpangnya, dan untuk angkut komoditas. Kereta di Madura tak tergantikan, karena belum ada transportasi lain sebanyak saat ini. Hasil dari kebun-kebun di Madura dibawa pakai kereta di bawa ke Surabaya. Sekarang relnya saja sudah pada hilang,” katanya

Namun Kehadiran moda transportasi darat lainnya seperti bus, minibus, mobil pribadi, juga sepeda motor turut menjadi penyebab menurunnya animo masyarakat Madura bepergian menggunakan si ular besi.

Perlahan namun pasti kereta api mulai ditinggalkan karena dianggap kurang efisien dari segi waktu tempuh.
“Masyarakat Madura mulai berfikir tentang kecepatan perjalanan serta ketepatan sampai di tujuan. Fakta yang kemudian tak bisa dihindari, jadwal perjalanan kereta api dikurangi. Operasional kereta api tidak berlangsung setiap hari”cetus nya

Sehingga Stasiun ini dinonaktifkan bersama dengan semua stasiun di jalur kereta api lintas Madura pada 1984–1987 karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Bangunan stasiun hingga kini masih utuh, tetapi beralih fungsi menjadi pertokoan. Selain itu, bekas rel masih dapat terlihat di emplasemen stasiun.
(Md)