Paceklik Pupuk Keberadaan Poktan Disoal

SAMPANG – Saat ini, kelangkaan pupuk manjadi masalah utama bagi masyarakat. Hal itu sudah berlangsung dua pekanan lebih. Bahkan, paceklik pupuk itu akan berlangsung satu bulanan ke depan. Dikethaui sebelumnya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang, andalkan kelompok tani (Poktan) agar ada varian pupuk organik dari kotoran sapi. Mengingat, pengarahan pupuk organik sudah acap kali dilakukan oleh petugas yang berada di naungan Diaperta KP, kepada poktan yang tersebar di kota bahari.
Namun, keberadaan poktan itu di soal oleh masyarakat. Bagaimana tidak, sebab selama ini, terkait pengembangan pupuk tradisional dalam sektor pertanian masih belum ada. Baik dari poktan maupun dari Dinas yang berkecimpung di dunia pertanian.

“Kalau tidak ada pengembangan yang bisa meredam situasi saat ini, lalu apa manfaatnya poktan itu,” ucap petani asal Desa Majengan Kecamatan Jrengik Moh. Imam Baidowi, Rabu (21/12/22).

Aktifis tembusan PMII Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu membeberkan, bahwa keberadaan poktan selama ini, hanya untuk menurunkan bantuan saja. Sementara pemanfaatan bantuan alat pertanian tidak dimanfaatkan secara betul.
“Contoh di Desa saya, ketua dan beberapa anggota poktannya itu satu keluarga dengan Kepala Desa (Kades). Dari beberapa tahun terakhir hingga sekarang, poktan majengan masih belum mampu mengembangan sektor pertanian, terutama pengembangan pupuk kandang,” tuding imam.

Seharusnya, ia lanjut melantangkan kritikan, di situasi paceklik pupuk ini, keberadaan poktan berperan penting, baik dalam pengembangan pupuk dari kotoran sapi, maupun pengembangan pupuk jenis lainnya.
“Artinya, poktan harus ambil peran di paceklik pupuk ini,” tutur pemuda yang akrab dengan sapaan Sableng itu.

Bukan hanya Imam yang menyoal fungsi poktan, salah satu warga Kampung Lembung Dusun Nangger Desa Plakaran Kecamatan Jrengik Sarbaini juga menyoal fungsi dan peranan poktan itu.
“Sebab, mengingat poktan sudah mendapat arahan dari Dinas pertanian. Kalau tidak melakukan pengembangan pupuk tradisional, maka keberadaan poktan dapat di bilang sia-sia,” timpalnya.

Hal itu, kata Beni, agar tidak terkesan bahwa keberadaan poktan hanya sekedar menurunkan bantuan alat pertanian saja. Apalagi, bantuan itu masih belum jelas pemanfaatannya untuk petani.
“Di Desa saya itu, penyuluhan minim. Apalagi pengarahan terkait pengembangan pupuk,” beber Aktifis tembusan PMII Sampang itu.

Maka dari itu, ia beserta masyarakat berharap banyak kepada poktan yang ada di Sampang, agar ada pengembangan pupuk tradisional (Kotoran sapi).
“Sebab sebenarnya, poktan memliki banyak fungsi dan peranan penting. Hanya saja mau menjalankan, apa tidak,” papar pemuda Taniah Lembung itu.

(AH