Dari Pada Sumbang Rekor Muri, Mending Sumbang Beli Pupuk yang Sedang Kosong

SAMPANG – Untuk memecahkan rekor MURI, pemerintah kabupaten (Pemkab) Sampang tidak mendengarkan kritikan rakyatnya. Sehingga, rekor MURI bakal telan Rp2 miliar lebih. Diketahui penarikan untuk seragam Rekor MURI itu, Pemkab Sampang tidak hanya menarik sumbangan ke ASN saja. Melainkan juga melakukan penarikan kepada honorer. Hal itu diungkapkan langsung oleh Anggota komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang Moh. Iqbal Fatoni, Sabtu (17/12/22).

Ia mendapat bocoran terkait honorer yang ditarik sumbangan ratusan ribu itu, dari salah satu temannya. Alasan lainnya, jumlah ASN di kabupaten Sampang hanya kisaran 7000 orang saja. Sementara yang dibutuhkan rekor MURI sebanyak 10.000 an orang lebih. Sehingga untuk melengkapi jumlah 10.000 an orang, pemkab justru melakukan penarikan kepada honorer juga.
“Kalau 10 ribuan orang rekor MURI itu memakai seragam semua, maka ya begitulah,” sangkanya.

Menurutnya, daripada menyumbang ke proyek rekor MURI yang terselip keambisian. Mending Rp2 miliaran hasil sumbangan itu dibelikan pupuk untuk disumbangkan kepada rakyat kecil. Mengingat saat ini, pupuk subsidi sedang langka. Sementara harga pupuk non subsidi mahal, di sisi lain petani sedang membutuhkan pupuk.
“Itu pun kalau para penyumbang proyek rekor MURI ikhlas. Tapi saya yakin, para penyumbang keberatan untuk menyumbangkan itu. Hanya saja mereka tidak berani membantah,” bebernya.

Ia mengaku sepakat dengan target rekor MURI itu. Hanya saja kalau masih mau menyusahkan rakyat seperti penarikan sumbangan, ia sangat tidak sepakat dan mengecam kegiatan penarikan itu.
“Kalau masih menyusahkan rakyat, kami tidak sepakat,” sambungnya.

Terkait penarikan yang totalnya menelan Rp2 miliar itu, katanya, merupakan ide gila. Apalagi, seragam yang dipesan tidak menguntungkan rakyat sampang sendiri. Yakni, justru memesan seragam ke luar daerah.
“Jadi penarikan yang dilakukan tidak jelas. Baik secara perencanaan maupun konsep pembuatan seragamnya,” pungkas pria yang akrab dengan panggilan Bung Fafan itu.

Sementara Sekda Sampang Yuliadi Setiawan tidak mengangkat saat berkali-kali hubungi via telepon. Sehingga kejelasan terkait konsep kaos yang tidak tranparan itu masih belum bisa diurai. Selain itu, terkait maksud dari penarikan uang yang totalnya Rp2 miliaran lebih itu, juga masih belum diketahui.

(AHe)