Ragam  

Miris! Di Sampang Hanya ada dua Budayawan

SAMPANG – Keberadaan budayawan di kabupaten Sampang minim. Bagaimana tidak, sebab dari ribuan penduduk Sampang hanya ada dua budayawan yang diakui oleh Pemkab Sampang. Alasannya, jika ingin menjadi Budayawan harus bersertifikat. Hal itu sudah parameter Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang, yang mengukur keahlian budayawan untuk kabupaten yang berjuluk kota bahari.

Kepala Disporabudpar Sampang Marnilem melalui kepala bidang (Kabid) Kebudayaan Ibni Abdi Rahman mengatakan, bahwa keberadaan budayawan di kota yang berjuluk bahari itu minim.
“Kalau keberadaan budayawan di kota bahari itu memang minim,” ucapnya, Rabu (14/12/22).

Sebab dibandingkan ribuan penduduk yang ada, ia lanjut menguraikan, hanya dua yang terdaftar sebagai budayawan Sampang.
“Hanya dua orang yang masuk kategori budayawan profesional,” ungkapnya.

Sementara untuk dikatakan sebagai budayawan itu, harus memiliki karya yang diakui oleh masyarakat. Tetapi karya yang dimaksud, suatu hal yang berkenaan dengan Madura terutama Sampang.
“Budayawan itu termasuk pegiat seni yang mementingkan daerahnya,” sambungnya.

Hal yang berkenaan dengan masyarakat itu contohnya, pada lagu terdapat notasi yang ditransformasi dari nada kuno ke modern. Atau pada sastra agung Madura, yang tergarap dalam sebuah karya tulis ilmiah atau pun non ilmiah.
“Tetapi di Sampang, yang berkecimpung bidang pengkaryaan semacam itu tidak ada,” tegasnya.

Sehingga keberadaan budayawan hanya dari orang-orang yang faham budaya dan adat Sampang saja. Itupun, harus membuktikan bahwa pernah sekolah atau ikut pelatihan budaya. Akhirnya, untuk menjadi budayawan harus menunjukkan sertifikat terkait budaya sebagai parameter atau pengukur tingkat pengetahuan tentang budaya.
“Sehingga ada dua budayawan Sampang, yakni Pak Bustomi dari Banyuates, dan Umar Faruk dari Kedungdung,” bebernya.

Dua budayawan Sampang itu, lanjutnya, sudah terlihat kinerjanya. Yakni mereka sudah berjuang agar Sampang memliki baju adat. Artinya, pencarian data-data sejarah dilakukan oleh kedua orang itu. Tentunya sesuai dengan apa yang mereka pelajari sebelumnya.
“Mereka memiliki peranan penting di baju adat Sampang,” imbuhnya.

Disinggung soal masyarakatnya yang acap kali jiplak notasi orang India, ia menjawab, bahwa mereka bukan termasuk dari budayawan maupun seniman. Hanya saja saat ditanya lebih mendalam terkait jiplak menjiplak, ia enggan menjawab.
“kalau yang jiplak notasi itu, belum termasuk budayawan atau Seniman Sampang,” pungkasnya.
(AHe)